TIPS RULE OF THIRD DALAM DESAIN

Apakah Anda pernah mendengar atau pernah menggunakan aturan Rule of Third dalam desain Anda ini?. Ternyata terdapat beberapa aturan dalam desain grafis. Ada aturan untuk, keseimbangan, komposisi, tipografi, white space dan hampir semua hal lain yang dapat Anda bayangkan.

Rule of Third biasa digunakan dalam bidang fotografi, tetapi Anda mungkin tidak terbiasa dengan aturan itu dalam desain grafis. Pada artikel kali ini saya mencoba membahas tentang aturan rule of third dalam dunia desain, sehingga harapannya membantu desain grafis Anda terlihat lebih eye catching.

Baik pasti Anda sudah tidak sabar lagi, berikut pembahasan tips rule of third dalam desain.

Apa sih Rule of Third itu?

Rule of Third merupakan cara untuk melihat tata letak sebuah desain. Baik desain itu berupa halaman web, lukisan, fotografi, maupun desain grafis pada aplikasi pixellab, canva ataupun powerpoint. Rule of Third dibuat dengan cara menempatkan grid layout sederhana yang dibagi rata menjadi tiga bagian, baik secara horizontal maupun vertikal pada ruang yang akan digunakan untuk sebuah desain. Membuat sembilan kotak berbentuk sama.

Rule of Third digunakan untuk memunculkan estetika, memecah-mecah desain (horizontal dan vertikal) sehingga masing-masing ketiganya memiliki tema yang serupa. Ini adalah cara yang berharga untuk membuat desain menjadi lebih menarik. Seorang seniman, John Thomas Smith menciptakan istilah “Rule of Thirds” pada tahun 1797 dalam karyanya “Remarks on Rural Scenery”, di mana dia mengakui kekuatan membagi lukisan menggunakan teknik grid ini untuk memaksimalkan efek pada mata yang melihatnya.

Anda dapat melihat karya fotografer terkenal. Subjek foto jarang berada di tengah , karena fotografer akan memasukkan aturan rule of third saat membingkai bidikan mereka. Memang, banyak kamera akan menawarkan grid overlay di view finder atau pada tampilan langsung sehingga fotografer dapat menyusun bidikan kamera mereka dengan mempertimbangkan aturan ini.

Bagian terpenting dari grid adalah tempat dimana garis bersilangan. Ini adalah titik fokus atau biasa disebut “sweet spot”. Dalam sebuah foto, Anda mungkin ingin mata atau senyum seseorang pada titik seperti itu untuk membantu menceritakan kisah gambar tersebut. Anda memiliki empat sweet spot untuk digunakan. Dengan sedikit pemikiran, dan bergantung pada apa yang terjadi pada gambar (apakah ada gunung di latar belakang, dll.?), Anda dapat menunjukkan apa yang terjadi dengan dampak paling besar. Semisal, apakah subjek Anda terlihat yakin bahwa dia akan mendaki gunung itu? Ingat, sebuah gambar bisa menceritakan seribu kata.

Inilah mengapa grid sangat berharga, dan ini juga berlaku untuk apa yang kita lakukan sebagai seorang desainer. Dalam desain web dan aplikasi, kita dapat menempatkan ajakan bertindak atau elemen kunci pada sweet spot, karena kita tahu bahwa mata secara otomatis akan mengarah ke empat titik persimpangan. Penting untuk dicatat bahwa keempat sweet spot ini berbeda dalam daya tariknya bagi mata.

Menggunakan aturan Rule of Third untuk menciptakan minat visual

Rule of Third menjadikan desain grafis Anda terlihat sempurna dalam hal simetris. Manusia secara alami tertarik pada sesuatu yang simetris. Jika Anda membuat sesuatu yang asimetris, itu dapat mengirimkan sinyal ke otak kita bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Sementara simetri tidak selalu diperlukan untuk desain yang baik, namun tentu keseimbangan mutlak diperlukan. Rule of Third juga merupakan salah satu alat terbaik, untuk membantu Anda mengetahui cara menggunakan keseimbangan asimetris. Jika desain Anda tidak seimbang, itu akan merusak keseluruhan tampilan. Menggunakan rule of third membantu Anda menjaga keseimbangan yang baik sambil tetap menjaga hal-hal tetap asimetris.

Itu karena dengan aturan rule of third, Anda tahu bagian kanvas mana yang paling berbobot. Jika Anda memiliki sesuatu yang penting di persimpangan kiri bawah, Anda tidak ingin sesuatu di persimpangan kiri atas membayangi itu. Namun di sisi lain, persimpangan kiri bawah dan kanan atas hampir sama, jadi elemen pemfokusan di area ini menciptakan keseimbangan yang mudah.

Bagaimana Menerapkan Aturan Rule of Third dalam Desain Anda

Untuk menerapkan rule of third dalam desain, Anda perlu mengetahui objek foto Anda seperti apa?. Nah berikut saran dari Company Folders, Inc. untuk beberapa perbandingan posisi foto yang menggunakan aturan rule of third dan yang tidak

1- Potraits

Potrait Foto bekerja paling baik saat mata orang tersebut tumpang tindih dengan persimpangan pada grid 3×3. Persimpangan tersebut adalah titik fokus utama, ini menciptakan kontak mata dan keterlibatan yang lebih baik daripada menempatkannya ditengah atau yang biasa disebut death center.

Jika Anda memiliki lebih dari satu subjek, saran saya coba posisikan semuanya hingga berada didekat persimpangan pada aturan rule of third

2- Landscapes

Jika Anda memiliki sebuah foto pemandangan landscapes, coba sejajarkan horizon dengan salah satu dari dua garis horizontal didekat pusat grid (center of grid).

3- Architecture

Simeteri yang sempurna terkadang menguntungkan saat Anda memiliki gambar arsitektur. Namun aturan rule of third berguna untuk menarik perhatian ke titik fokus terpenting sebuah struktur.

4- Action

Berhati-hatilah untuk tidak membuat subjek Anda sesak, terutama bila Anda ingin menciptakan kesan sebuah gerakan. Coba tempatkan subjek di salah satu ujung grid dan sisakan ruang untuk tujuannya di ujung lainnya


Nah itu tadi pembahasan terkait tips rule of third dalam desain. Nantikan tulisan saya berikutnya ya. feel free to share and give new insight for all.

Semoga Bermanfaat

AB

Reference

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s